Jika Kau Tanyaku

Entah, rasa apa yang harusnya aku sematkan pada keadaanku saat ini

Aku benar benar ada dipersimpangan jalan yang semuanya indah

Lantas jalan mana yang sebaiknya aku dahulukan?

Dahulukan??

Iya.. karena aku ingin melewati semua jalan yang aku temui dipersimpangan

Aku ingin menikmati semua sensasi yang disajikan oleh mereka

Aku bahagia bisa bertemu dan mengenalmu

Bahkan aku tak bisa membaca cara memandangmu dalam menilaiku

Seistimewa apa aku dimatamu?

Hingga tak kutemui ragu sedikitpun

Hingga aku merasa takut sendiri, jika pada akhirnya aku tak sesempurna apa yang ada dimatamu

Inikah saatnya aku berhenti mencari? Mungkin.

Jika kau tanyaku bahagiakah aku? Iya.. aku bahagia, bahkan begitu bahagia

Karena dikesemua banyak kekuranganku, kau tak pernah memandangku dari semua itu

Jika kau tanyaku ragukah aku? Iya

Aku ragu jika aku tak mampu jadi apa yang ada dalam imajimu

Aku merasa kau begitu berlebihan dalam menilaiku

Dan itu membuatku takut, takut jika kau hanya menilaiku dari satu sisi saja

Jika kau tanyaku sudah siapkah aku? Sudah.

Tapi, apakah kau mengijinkan aku untuk menyelesaikan semua yang harus aku tuntaskan sebelum hari itu tiba??

Mengijinkankah kau jika aku ingin kau menemaniku mewujudkan mimpi yang belum tuntas aku nyatakan??

Jika kau mengijinkan, aku akan berusaha menjadi yang terbaik

Menemanimu mewujudkan semua mimpi yang masih kau tidurkan

Menemanimu hingga usai usia kita

Teruslah melangitkan do’a agar mimpi kita di ridhoi-Nya

Semoga semua do’a kita di ijabah. Aamiin

(Selasa, 09 Juni 2015) #latepost

Dipublikasi di Puisi, Tulis Menulis | Tag , | 6 Komentar

Dalam Jalanku

Dalam perjalananku menumbuhkan rasa

Kini aku lebih menyadari, betapa aku masih jauh dari sempurna

Meski kutahu, tak ada manusia yang mencapai sempurna

Walau begitu aku tetap tahu, aku masih jauh dari sempurna milikmu

Namun dalam perjalananku pula,

Aku banyak tau, jika ternyata

Ada debar yang terkadang menyesakkan

Ada rindu yang terkadang mengintip batin

Ada bahagia dalam setiap percakapan-percakapan sederhana

Namun..

Ada juga tangis menghiasi setiap perjalanan rindu

Ada rasa takut yang seringkali mengetuk hati

Kau begitu baik

Sayangnya aku belum bisa sepertimu

Hingga terkadang membuatku kecewa

Terlebih membuatmu kecewa

Hanya maaf dan terimakasih

Yang bisa selalu aku sajikan untuk tamu sebaik kamu

Teruntuk kamu..

Aku bebaskan kamu dengan segala pilihanmu

Begitupun dengan aku yang akan tetap merawat pohonku

Tetap menyelipkan namamu dalam setiap do’a yang selalu kulangitkan

Walau ku tak tahu akan berakhir seperti apa perjalanan kita ini.

*maaf dan terimakasih untuk kamu yang dulu kupanggil ‘Lelaki Tanpa Nama’

Dipublikasi di Catatan, Puisi, Tulis Menulis | Tag , , | Meninggalkan komentar

Haruskah??

Diawal perjuanganku menumbuhkan pohon yang baru saja kutemukan benihnya

Haruskah kamu menanyakan seberapa besar rasa yang kupunya untukmu??

Aku sedang berjuang untuk menumbuhkan pohon itu bukan karena keterpaksaan

Tapi melainkan aku benar-benar ingin pohon itu untuk kamu

Haruskah kamu tergesa-gesa memaksaku menjawab semua kepastianmu??

Harusnya kamu lebih bersabar sedikit

Karena aku masih berada pada lingkar kebimbangan

Aku masih berusaha mengalihkan segala lukaku tersebab masalaluku

Aku tau, rasamu begitu besar terhadapku

Karena itu aku menemukan benih untuk pohon yang aku tanam

Tapi, Haruskah secepat itu kamu menuntut kepastianku??

Sedang aku baru saja bisa meraba rasamu,

Aku tau pohonku tak sebesar pohonmu untukku

Tapi, tak maukah kamu bersabar menunggu pohonku tumbuh dengan alami??

Iya, bukan tumbuh karena keterpaksaan.

 

*Untuk kamu yang dulu kupanggil ‘Lelaki Tanpa Nama’

 

fetiirma

Dipublikasi di Catatan, Puisi, Tulis Menulis | Tag , | Meninggalkan komentar

Saat Benih itu Kutemukan

Sumber : ndrakster.blogspot.com

Sumber : ndrakster.blogspot.com

kala pohon itu mulai tumbuh

aku ingin memupuknya dengan pemahaman – pemahaman yang baik, kasih sayang,  kepercayaan dan kesabaran

berharap, kelak jika waktu telah datang untuk memanennya

aku ingin ia berbuah manis

semanis brownis dan masakan yang selalu kita sajikan dengan bumbu bahagia

 

ku Aamiin kan untukmu wahai pohon sayank.ku 🙂

 

fetiirma

Dipublikasi di Catatan, Puisi, Tulis Menulis | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kamu — M00

Kamu yang ternyata mulai mampu membuatku tersenyum

Kamu yang mulai membuatku merasakan lagi getar itu

Kamu yang ternyata mampu membuatku mengalihkan segala sakitku dulu

Kamu yang kuharap tak ada lagi luka

Dan kamu yang kuharap tetap menjadi sederhana

Aku, yang berharap tak tergesa-gesa

Dan aku yang berharap ini tak berlebihan

_fetiirma 🙂

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

Miriss..

Sabtu yang harusnya bisa tenang, meninggalkan semua tentang pekerjaan. Sabtu yang harusnya indah dengan memeluk senja di salah satu jalan Daerah Istimewa.

Tapi, keadaan bisa berbalik arah hanya dengan sepersekian detik.

Iya, niat baik untuk menjalankan kewajiban 5 waktu dengan berjama’ah tidak berjalan baik.. Ditinggal pemiliknya sholat, ternyataaa ada yang diam-diam mengambil yang bukan miliknya. Alhasillll, kami mengalami musibah. Miriss.. mengalami musibah di tempat yang harusnya suci..

Untuk Ibu yang memberi rezeki atas musibah kami, kami berdoa semoga diberi kelancaran dalam mencari rezeki, di beri panjang umur, dan semoga menjadi amal yang jariyah..

Untuk adikku dan untuk diriku, bersabarlah.. jika ini peringatan semoga kita lebih bisa mendekatkan diri kepada Alloh, semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita. Namun jika ini ujian, semoga Alloh menaikkan derajat kita, mengganti semua yang telah hilang dengan yang lebih baik dan lebih barokah. Aamiin

#La Tahzan

Dipublikasi di Catatan, Tulis Menulis | Tag , | 2 Komentar

Hadiah pada Shubuh Paling Ranum

Teruntuk kamu yang dulu ku panggil ‘Lelaki Tanpa Nama’

Terima kasih untuk hadiah yang ku terima pada shubuh paling ranum ini

Akan selalu aku mainkan walau tanpa irama

Karena alat musik bukan hanya untuk mereka yang punya bakat

Untukku yang tak tau apa-apapun punya kesempatan untuk memainkannya, bukan?

Teruntuk kamu yang baru saja bisa kusapa

Terimakasih untuk shubuh yang dingin, yang mampu memberi kesan

 

#siapapun kalian berbagahagialah jika kamu diabadikan dalam coretan kata 🙂

 

_fetiirma

Dipublikasi di Catatan, Tulis Menulis, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Hanya Sekedar Seharusnya

Kenapa? Kenapa kamu menyakiti perasaanmu sendiri. Bahkan bukan hanya perasaanmu yang merasakan sakit, tapi ada perasaan lain yang jauh merasa sakit. Yang harus berjuang untuk tetap tersenyum dalam nyeri yang manyakitkan. Harus tetap semangat dalam kerapuhan. Kenapa? Kenapa kamu menyerah begitu saja?

Sakit itu semakin terasa ketika aku tahu jika kamu juga mungkin sedang berjuang dengan sakit yang kamu cipta sendiri. Kenapa kamu tak lagi mau berbagi? Hingga kamu memilih jalan yang mungkin dibenci orang. Kenapa kamu lakukan itu? untuk kebaikan siapa?? Jika pada akhirnya hanya melukai banyak perasaan, bahkan perasaanmu sendiri.

Mungkin kita masih merasa tak pantas untuk kita, seperti yang biasa kita perdebatkan. Tapi, bukankah itu akan terasa lebih ringan jika kita berjuang bersama?? Kenapa kamu menyerah untuk berjuang bersamaku? Hingga meninggalkan aku yang harus berjuang sendiri dalam kesunyian yang memilukan. Aku tak bisa berhenti begitu saja bahkan setelah kamu memberiku luka. Tapi, luka itulah yang tak mampu membuatku berhenti. Harusnya kamu tau, jika kamu mampu memaknai riwayatku dalam lembaran birumu yang kukembalikan beberapa waktu yang lalu. Tapi, itu hanya sekedar seharusnya.

_fhetyirmaa

Dipublikasi di Catatan, Tulis Menulis | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Buku Biru

Aku telah berusaha mengenangmu dengan cara terbaikku
Tapi tetap saja aku masih terbelenggu dengan rasa yang kucipta sendiri
Semua yang telah aku rapikan dalam waktu yang tak sebentar
Ternyata mampu teracak-acak kembali hanya dengan tatapan sepersekian detik
Aku tak tahu, dan aku tak akan mencari tahu
Tentang rasa yang kamu rasakan tentangku
Yang aku tahu, sunyi selalu membisikkan rindu kepadaku
Untuk aku kirimkan kepadamu
Aku tak pernah tahu, dan tak akan mencari tahu
Sampaikah rinduku kepadamu????

Aku masih ingin berusaha seperti dulu
Karena nyatanya aku masih bertahan untukmu
Aku masih belum bisa menjadikanmu bagian dari masalaluku
Karena, seburuk apapun kamu dimata mereka
Kamu tetap orang istimewa yang pernah aku temui
Kamu dan lagu itu membuatku merindukan buku biru
ya.. Buku Biru..
Masihkah kamu merawatnya???
Ataukah sudah kamu buang atau bahkan kamu bakar???
Apapun kenyataannya, aku masih tetap berharap kamu memenuhi seluruh halaman kosong
Hingga suatu saat ketika takdir berbaik hati kepada kita
Aku ingin membaca huruf yang kamu riwayatkan di dalamnya..

_Ainun Mahya

Dipublikasi di Catatan, Syair, Tulis Menulis | Tag , , | 2 Komentar

Yang Aku Tahu

Hari ini, takdir menemukan kita kembali di salah satu jalan
Tatapan itu..
Ya.. tatapan itu walau hanya sepersekian detik
Tapi tetap mampu menciptakan nyeri yang menyakitkan
Apa arti semua itu???
Dan kenapa kamu mendahuluiku dengan cara yang kejam???
Cara yang tak diterima oleh telinga, mata dan hati!!!
Apa memang sudah tak ada secuil rasa yang tertinggal dihatimu???
Hingga untuk mengukir senyumpun tak mampu
Tahukah kamu????
Jika caramu itu mampu menciptakan kekecewaan yang begitu besar
Begitukah caramu memperlakukan masalalumu???

Pertemuan yang berlangsung hanya beberapa detik itu
Ternyata mampu menggetarkan ketegaran yang selama ini jaga
Panas dan dingin juga kurasakan seketika
Aku tak tahu ini karena apa
Mungkinkah ini karena rasaku padamu???
Entah.. aku tak yakin jika rasaku begitu hebat kepadamu
Yang aku tahu.. kamu tak lagi menginginkanku

Haruskah dengan tega aku membunuh rasaku padamu ???
Tapi, aku tak mampu
Karena yang aku tahu.. sepotong hatiku masih kamu bawa

Senja, 07 Juni 2014

_Ainun Mahya

Dipublikasi di Catatan, Tulis Menulis | Tag , | Meninggalkan komentar